Showing posts with label rock. Show all posts
Showing posts with label rock. Show all posts

Sunday, 18 January 2015

Gitar Rotan Laminasi dari ITS Surabaya

Mahasiswa Despro ITS ciptakan Gitar dari rotan laminasi



Berawal dari keresahan melihat tidak maksimalnya pengolahan rotan. Ide kreatif kemudian muncul. Berbekal hobi musik, dia sukses menciptakan gitar rotan laminasi yang begitu dipetik, suaranya tidak jauh berbeda dengan gitar pada umumnya

  Mata lelaki bertubuh kurus itu sesekali terpejam. Lagu "Belum Ada Judul" milik Iwan Fals mengalir merdu. Denting permainan gitar yang mengiringi lagu tersebut juga tak kalah nyaman di telinga. Terdengar jernih dan empuk. Suara gitar yang empuk dan merdu tersebut tidak berasal dari kayu oak atau kayu lain yang menjadi bahan mainstream gitar. Tapi, dari rotan. Gitar itu diberi nama Aluna oleh penciptanya  Itu adalah nama anak ketiga perajin gitar kondang di Purwodadi. Namanya Pak Widadi, beliau yang membantu saya menyelesaikan gitar ini,ucapnya. 

  Sebagai tanda terima kasih, alumnus SMAN 1 Malang tersebut menamakan gitar itu Aluna. Muhammad Khirzan Ulinnuha (ulin) bercerita bahwa pembuatan gitar tersebut bermula dari penemuan rotan laminasi oleh Dodi Mulyadi, pakar dan desainer rotan dari Pusat Inovasi Rotan Nasional (Pirnas). Rotan laminasi adalah rotan yang telah dipotong berupa balok-balok kecil dan direkatkan hingga berbentuk papan. Melihat inovasi itu, Ulin ingin mengembangkan lebih luas lagi. Dia yakin rotan tidak hanya berakhir sebagai produk furnitur. Apalagi, yang dia ketahui, Indonesia adalah kerajaan rotan besar. Di Indonesia ini rotannya banyak. Sayangnya, rotan cuma bisa jadi kursi atau meja. Udah gitu yang beli orang asing pula. Sayang kan kalau nggak bisa dimanfaatin, papar bujang kelahiran Blitar itu. 


Ide membuat gitar tersebut sebenarnya muncul secara tidak sengaja. Gitar berbahan rotan laminasi itu sebenarnya bukanlah produk yang disiapkan untuk tugas akhirnya di kampus. Awalnya dia bermaksud menciptakan wadah unik yang dibutuhkan banyak orang. Kemudian Ulin melihat banyak teman kampusnya bermain gitar. Karena itu, dia mengganti gagasannya. Dosen pembimbing menggiring Ulin untuk menciptakan gitar yang berbeda. Lama Ulin berpikir, akhirnya di sebuah mata kuliah, dosennya bercerita tentang keikutsertaannya pada workshop yang berkaitan dengan rotan. Lelaki yang sejak kecil juga hobi menggambar itu kemudian punya pikiran nyeleneh. Begitu jam kuliah selesai, saya berpikir bisa nggak ya rotan dibuat jadi gitar, imbuhnya. 

  Mahasiswa angkatan 2009 itu pun mewujudkan imajinasi desainnya ke bentuk nyata. Semula sulit menemukan bahan baku rotan yang sudah diolah menjadi laminasi. Setelah berkomunikasi dengan beberapa orang, Ulin pun berharap kepada salah seorang kenalannya yang bersedia mengirim rotan laminasi dari Sulawesi. Namun, rotan yang ditunggu cowok yang juga aktif di komunitas menggambar Penahitam Surabaya itu tidak kunjung tiba. Di tengah keputusasaannya mendapat rotan laminasi, kakak kelasnya memberi informasi tentang distribusi rotan di Menganti, Gresik. Sayangnya, di situ tidak ada rotan laminasi (rotan yang sudah diolah menjadi bentuk papan), melainkan rotan mentah yang masih berbentuk silinder utuh. Karena dikejar waktu, Ulin akhirnya rela berpanas-panasan mengendarai motor ke Gresik. Dibantu rekannya, dia membeli 30 kg rotan mentah bentuk silinder jenis asalan. Setiap 1 kg rotan dihargai Rp 9 ribu. Rotan-rotan itu dibawanya sebanyak dua kali. Pertama, dia membawa 12 kg rotan dengan naik motor. รข€Saya bawa naik motor dengan diboncengkan teman. Lumayankemeng pundak ini, ceritanya lalu tertawa kecil. 

   Keesokan harinya, dia menyewa pikap milik kenalannya untuk mengangkut 30 kg rotan. Kocek sewa mobil itu lumayan tebal untuk ukuran mahasiswa. Total penggunaannya sekitar 20 kg. Saya sengaja membeli banyak untuk jaga-jaga, nyatanya memang sisa, ceritanya. Membeli rotan mentah memaksa pria Sagitarius itu bekerja dua kali. Sebelum membuat gitar, dia harus menerapkan teknologi laminasi. Artinya, dia harus memotong rotan silinder berdiameter 3,2 cm menjadi beberapa bagian kecil. Lalu, rotan-rotan sepanjang 4 meter itu dipotong per 1 meter berbentuk balok. Selanjutnya, 4 bilah rotan yang sudah menjadi balok tersebut direkatkan dengan lem, baru dipotong kecil-kecil seperti papan. Tugas selanjutnya ialah mencari perajin yang bisa membantunya mengerjakan gitar sesuai desain yang sudah dibuatnya. Pada tahap itu, lagi-lagi Ulin mendapat hambatan. Dia sulit mencari perajin gitar di Surabaya. Rata-rata perajin menolak menggarap gitar miliknya karena mereka sudah menerima pesanan dari orang lain. Bahkan, ada salah seorang seniman gitar yang meremehkan karyanya. Orang tersebut tidak percaya bahwa hasil kreasi Ulin bisa menghantarkan suara. Beliau benar-benar nggak mau ngerjain. Daripada buang-buang waktu bikin gitar kamu dan nolak pesenan orang. Udah gitu, iya nanti kalau gitarnya bunyi, lah kalau enggak? Beliau bilang gitu ke saya, kenangnya kemudian tersenyum kecut. Perjuangan cowok yang mengaku masih jomblo itu akhirnya terbayar. Dia berjodoh dengan Widadi untuk melanjutkan penggarapan gitar. 

  Selama sebulan, Ulin bolak-balik Surabaya-Purwodadi untuk mengecek hasil polesan Widadi. Ulin mengaku tidak semua bagian gitarnya berasal dari rotan. Rotan hanya dipakai untuk top body, back, dan side guitar. Sementara itu, bracing atau bagian dalam masih dilapisi kayu. Bagian neck terbuat dari mahoni dan senar gitar jenis nilon. Semua kelengkapan itu dibuat agar gitar mampu bersuara dan tidak melengkung jika terkena panas matahari. Akhirnya, gitar jadi. Yang terpenting, kualitas suara yang dihasilkannya tak kalah dengan gitar mainstream. Kerja kerasnya terbayar. Bahkan, bila sedang galau, Ulin bergitar dan bersenandung dengan enak. Karya gitarnya dipresentasikan ke publik pada pameran tugas akhir bertemaBright Future Ahead yang diselenggarakan jurusannya kemarin (17/1) dan hari ini. Selain itu, gitar rotan orisinal tersebut diikutsertakan pada perlombaan internasional di Jerman pada Mei. Penilaian lomba itu diumumkan pada Februari. Ya selama ini setahu saya, belum ada yang bikin gitar dari rotan. Saya yakin ini yang pertama di Indonesia. Bahkan, mungkin di dunia, tegasnya. Jika lolos, pria penyuka warna hitam itu berharap produknya mendapat hak paten dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Bila itu terwujud, dia sangat yakin mimpi besarnya untuk memasarkan produknya secara masal tergapai. Apalagi pada pengujung tahun nanti, MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015 bergulir. Kalau benar-benar bisa dapat hak paten, saya ingin membangun industri baru. Akhir tahun nanti kita saingan se-ASEAN. Masak kita mau rotan produksi Indonesia terus-terusan dibeli orang asing. 

Nanti saya pasti mengajak perajin gitar seperti Pak Widadi, harapnya tinggi.

( Jawapos - 18 Januari 2015 )


’’Itu (Aluna, Red) adalah nama anak ketiga perajin gitar kondang di Purwodadi. Namanya Pak Widadi, beliau yang membantu saya menyelesaikan gitar ini,’’ ucapnya. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/01/kreasi-mahasiswa-despro-ciptakan-gitar-rotan-laminasi.html#sthash.mlMOaRiQ.dpuf
Muhammad Khirzan Ulinnuha, 24, terusik saat melihat tidak maksimalnya pengolahan rotan. Ice kreatif kemudian muncul. Berbekal hobi musik, dia sukses menciptakan gitar rotan laminasi yang begitu dipetik, suaranya tidak jauh berbeda dengan gitar pada umumnya. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/01/kreasi-mahasiswa-despro-ciptakan-gitar-rotan-laminasi.html#sthash.qWDs1N5u.dpuf
Muhammad Khirzan Ulinnuha, 24, terusik saat melihat tidak maksimalnya pengolahan rotan. Ice kreatif kemudian muncul. Berbekal hobi musik, dia sukses menciptakan gitar rotan laminasi yang begitu dipetik, suaranya tidak jauh berbeda dengan gitar pada umumnya. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/01/kreasi-mahasiswa-despro-ciptakan-gitar-rotan-laminasi.html#sthash.qWDs1N5u.dpuf
Muhammad Khirzan Ulinnuha, 24, terusik saat melihat tidak maksimalnya pengolahan rotan. Ice kreatif kemudian muncul. Berbekal hobi musik, dia sukses menciptakan gitar rotan laminasi yang begitu dipetik, suaranya tidak jauh berbeda dengan gitar pada umumnya. - See more at: http://www.indopos.co.id/2015/01/kreasi-mahasiswa-despro-ciptakan-gitar-rotan-laminasi.html#sthash.qWDs1N5u.dpuf

Wednesday, 9 April 2014

Film Horror ala Slash

SLASH membuat film HOROR.....

   Slash sang gitaris telah mencoba merambah dunia musik yang lebih luas dengan membuat film bertema horor dengan judul "Nothing Left To Fear". 
 
Meski bukan film horor seperti "zombie" yang sarat dengan percikan darah  namun film dengan alur cerita yang menarik penontoonnya untuk menikmati "keseraman" sekaligus berfikir untuk menebak ending cerita ini, cukup menghibur untuk ditonton.





















Penasaran?
coba lihat trailernya di : http://www.youtube.com/watch?v=jztGjNp7KOg


Wednesday, 8 January 2014

Bill Turner "tokoh dibalik pickup gitar Fender"

BILL TURNER

 




Sang pencipta pickup Gitar Fender

Proyek pertama saya setelah bergabung pada "R & D GUITAR" adalah untuk mendalami  pickup yang kami buat. saya ingin memastikan pickup - pickup itu  terutama di instrumen Vintage Series seotentik mungkin. Setiap komponen berpengaruh pada sound tiap instrumen, kecuali pickups yang menyalurkan sound ke ampli. Untuk beberapa hal ini adalah jantung dan jiwa dari sebuah gitar. Saya membayangkannya sebagai sebuah bunyi / sound. Kupikir Leo Fender juga melakukan hal yang sama. Bunyi yang dihasilkan melalui pickups pada awalnya menunjukkan ciri dari gitar listrik dan bass.

Tidak ada komponen gitar lainnya yang lebih diselimuti misteri dan voodoo daripada sebuah pickups. Tetapi beberapa pickup fender pada awalnya bukanlah hasil dari ilmu hitam. Pickup-pickup itu adalah hasil dari ilmu elektronik, ilmu fisika dan matematika, keduanya langsung berasal dari para musisi itu sendiri. Itulah yang Leo Fender lakukan, dan itulah yang kami lakukan sekarang.

Saya memulai dengan pickup Stratocaster tahun '57 / '62. Pickups ini sudah memiliki sound yang bagus, tapi perlu diingat, tujuanku adalah ke-otentikannya. Kami membutuhkan pickup untuk diduplikasi dan untungnya kami memiliki satu set pickup stratocaster asli 1963 untuk diteliti. Melalui tes, pickups ini terbukti menjadi yang terbaik, keseimbangan yang bagus dan terdengar sangat hidup. Saya melakukan tes, dan mencocokkan setiap parameter. Untuk menemukan rahasia sound pickup tersebut, perlu untuk mengorbankan salah satu pickup untuk kepentingan seni dan ilmu. Karena ternyata, kami menemukan bahwa Alnico 5 magnet yang
dibuat di akhir tahun '50 hingga pertengahan '60, dibuat menggunakan proses yang berbeda. Ini  menggunakan bahan  magnet yang berbeda, dan pada akhirnya mengubah karakter soundnya. Tapi untungnya, pickup tersebut masih memiliki beberapa material magnet aslinya. Kami menganalisa pickup tersebut, mengujinya dengan beberapa prototipe, dan pickup tersebut bersuara sangat bagus.Tetapi tetap saja terasa ada yang hilang.

Dengan banyaknya rintangan tersebut, pada akhirnya saya lebih fokus pada gulungan kabel magnet.Kami kurang beruntung dengan penelitian magnetnya. Teknik modern dalam pembuatan kabel tidak mengikuti  cara-cara pembuatan kabel seperti  yang ada di tahun 1950 - 1960.Namun kami mampu mengidentifikasi  faktor-faktor kritis yang membuat kawat itu menjadi unik.Kami bekerja sama dengan produsen, melakukan pengujian dan banyak perubahan pada spesifikasi kawat dan akhirnya, kami memperoleh satu hal paling penting.


 
Dengan magnet yang tepat dan kabel yang cocok,  aku tahu persis apa yang aku butuhkan untuk menciptakan beberapa "Holy Grail Strat pickup".

 Pickup Vintage '57/ '62 kami yang baru adalah hasil dari penelitian yang melelahkan. Itu adalah project  saya yang pertama. 







 

Apakah anda sudah pernah mencoba pickup Vintage kami yang tanpa nois (noisless) ?.
Sudah pernah mencoba pickup Hambucker kami?. Dan sudah ada banyak hasil dan upaya untuk
menghasilkan setap pickup yang kami produksi.


Kami berharap anda akan senang bermain menggunakan pickup kami.


(Bill Turner bergabung pada team R & D Guitar Fender pada tahun 1995, setelah 14 tahun
sebagai co-founder dan chief designer dari EMG pickup, dan 5 tahun sebagai pendiri dari
LSR (Linear String Research).


(Sumber : Fender Frontline 2002)


<span style="display:none">IBX5A6CA1BD3E819</span>
IBX5A6CA1BD3E819